RIAU — Rencana integrasi ini bukan sekadar sambungan fisik antarruas tol. Bagi Pelindo, ini adalah bagian dari upaya besar merombak ekosistem logistik nasional yang selama ini dinilai kurang efisien. Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono, menegaskan bahwa pihaknya siap berkolaborasi penuh dengan pemerintah agar konektivitas dari pelabuhan ke kawasan industri di sekitarnya bisa berjalan mulus.
"Kami mendukung penuh dan siap berkolaborasi dalam integrasi jalan tol Cibitung-Cilincing ini. Ini akan menjadi pengungkit utama efisiensi logistik nasional," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, kemarin.
Mengapa Integrasi Ini Penting?
Selama ini, akses keluar-masuk Truk dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok sering menjadi titik kemacetan. Ratusan ribu kontainer yang keluar-masuk setiap tahunnya harus berbagi jalan dengan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Kondisi ini tidak hanya membuang waktu, tetapi juga menambah biaya operasional pengusaha.
Dengan adanya integrasi tol Cibitung-Cilincing, truk logistik memiliki jalur alternatif yang lebih cepat dan bebas hambatan menuju pelabuhan. Pelindo menilai proyek ini akan menciptakan koneksi yang lebih langsung antara kawasan industri di timur Jakarta dengan dermaga. Dampaknya, waktu tunggu (dwelling time) dan biaya angkut diharapkan bisa ditekan, yang pada akhirnya membuat harga barang lebih kompetitif.
Apa Saja yang Disiapkan Pelindo?
Pelindo tidak hanya berperan sebagai penonton. BUMN pelabuhan ini telah menyiapkan sejumlah langkah agar integrasi berjalan efektif. Pertama, penyesuaian tata ruang di sisi darat pelabuhan agar arus masuk dan keluar kendaraan logistik tidak tumpang tindih dengan aktivitas penumpang atau kendaraan lain.
Kedua, Pelindo tengah menggenjot digitalisasi proses bongkar muat dan keluar-masuk gerbang. Sistem yang terintegrasi secara digital ini akan memastikan truk yang tiba di gerbang tol tidak lagi mengantre panjang di pintu masuk pelabuhan. Data kedatangan kapal dan ketersediaan peti kemas akan disinkronkan dengan sistem manajemen lalu lintas darat.
Ketiga, koordinasi dengan pihak kepolisian dan pengelola jalan tol terus dilakukan untuk mengatur skema prioritas bagi kendaraan logistik, terutama pada jam-jam puncak aktivitas pelabuhan.
Efek Domino bagi Industri dan Ekonomi
Keberadaan akses tol yang terintegrasi ini memberikan angin segar bagi para pengusaha di kawasan industri Cibitung, Cikarang, hingga Karawang. Mereka selama ini mengandalkan jalur Pantura atau arteri yang padat untuk mengirim barang ke Tanjung Priok. Dengan tol baru ini, jarak tempuh yang semula bisa memakan waktu 2-3 jam di jam sibuk, diproyeksikan bisa dipangkas menjadi kurang dari satu jam.
Efisiensi waktu ini bukan perkara sepele. Bagi perusahaan eksportir, kecepatan pengiriman ke pelabuhan menentukan daya saing mereka di pasar global. Keterlambatan satu hari saja bisa berujung pada penalti atau hilangnya kepercayaan pembeli di luar negeri. Integrasi ini juga diharapkan mampu menggeser sebagian moda transportasi darat yang kurang efisien menuju moda yang lebih ramah lingkungan karena mengurangi emisi dari kendaraan yang berhenti di kemacetan.
Proyek integrasi ini memang masih dalam tahap perencanaan teknis antara Kementerian PU, Badan Usaha Jalan Tol, dan Pelindo. Namun, komitmen yang sudah dinyatakan Pelindo menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan logistik nasional mulai berpihak pada efisiensi. Keberhasilan proyek ini nantinya akan menjadi tolok ukur bagaimana sinergi antar-BUMN dan pemerintah bisa menekan biaya logistik nasional yang selama ini menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.